ciri khas warga baduy, berjalan berderet ke belakang. so harmony!

Belajar kesederhanaan dari warga baduy dalam

Salam ransel !
Holaa..pakareba readers. Semoga dalam keadaan kece selalu yaa ;)
di tulisan kali ini gw mau sharing tentang pengalaman trip seru gw ke baduy dalem sama tim Backpacker Indonesia. Trip yang bertema “ Jalan santai ke Baduy dalam’ ini di koordinatorin sama kang ipung yang udeh berkecimpung lama di dunia backpacker indo.

Sekilas tentang baduy

Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, Nama baduy pertama kali diambil dari sebutan peneliti belanda juga nama  Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut.Sedangkan Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka.

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001).Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik .

Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.

Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka “Kanekes Dangka” tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar

Lets stories begin.
trip dimulai dari meeting point kita di stasiun tanah abang jam 7 pagi,
berangkat sendirian tanpa orang yang gak dikenal satupun gak pernah jadi masalah besar buat gw, percaya,selama kita berfikir positif , everthing’s gonna be alright . just so happy bisa ketemu dengan 36 backpacker lain dari berbagai tempat. Meski gak terlalu hafal satu per satu but you all rock guys !!

bpi

jam 8.00 , kereta patas rangkasjaya yang kami naiki melaju cepat meninggalkan stasiun tanah abang menuju stasiun rangkasbitung. Satu setengah jam saja untuk sampai di stasiun rangkas, its 9.30
perjalanan kemudian dilanjutkan dengan elf sewaan menuju desa ciboleger . Jalan bebatuan , menanjak ,berkelok kelok semakin menambah sensasi perjalanan dengan elf. 2 jam perjalanan yang mengocok perut .

Jam 12.30 tiba di Desa Ciboleger, desa terakhir yang bisa dijangkau oleh kendaraan.Disini kita beristirahat sebentar sebelum kembali melanjutkan perjalanan , makan siang di salah satu warung dan melakukan persiapan logistik di alfamart ciboleger.

Yeaa, we are so ready ! Its 13.00 saat kaki mulai melangkah meninggalkan ciboleger menuju Desa Cibeo baduy dalam, jarak yang ditempuh kurang lebih sekitar 12 km dengan asumsi waktu tempuh sekitar 4.5 jam.
jalur trekking yang dilalui meliputi Ciboleger – Baduy Luar Kaduketer (± 2 km= 1.5 jam) dan Baduy Luar Kaduketer – Baduy Dalam Cibeo (± 10,5 km=3 jam)

so excited pada mulanya . Dengan percaya diri yang cukup tinggi saya mulai menanjak melewati bebatuan. Se-jam berlalu trekking mulai terasa sangat melelahkan, trekking pun semakin sulit dilalui, tanjakan dan turunan yang curam dan licin terlalu nyata di depan mata, membuat keringat bercucuran membanjiri tubuh. Hanya satu kata untuk ini LELAH . Beberapa peserta pun mulai kewalahan membawa ransel , tak jarang dari mereka menggunakan jasa porter tas. So amaze saat orang baduy bersedia membawakan tiga sampai empat tas yang beratnya tak kurang dari 10kg itu. Wow !!
untuk biaya ?? mereka tidak pernah mematok harga untuk jasa yang mereka keluarkan. “ seikhlasnya saja” begitu polos kata itu keluar . SALUT ! 117

Sementara gua masi bertekad untuk tidak menggunakan jasa porter.just keep on my knee with bag on the shoulder , begitu memang seharusnya seorang backpacker , tanpa menghina peserta yang menggunakan jasa porter yaa .hehe

pemandu perjalanan yang notebene nya adalah orang baduy dalam asli sangat welcoming dan menghibur. Cerita hidup mereka tak jarang membuat saya takjub , terkadang lucu dan mencengangkan.

Kang Sapri

Kang Sapri

Salah satu pemandu trip, Sapri ,bercerita dengan bangganya kalau dia pernah mengunjungi jakarta dengan berjalan kaki dari baduy,mengunjungi monas, Mall Taman Anggrek, Epicentrum dan banyak lainnya ,begitu juga kang Herman, pernah di tolak salah satu restaurant jepang dan hotel kenamaan di Jakarta.Dan kebanyakan kunjungan mereka ke Jakarta bukan tidak beralasan, melainkan karena undangan turis yang  pernah berkunjung ke baduy sebelumnya

jembatan bambu , baduy luar

jembatan bambu , baduy luar

Setiap desa yang saya singgahi berharap itu adalah desa cibeo, namun setelahnya pupus saat pemandu bilang kita masi setengah perjalanan. kami pun kemudian beristirahat sebentar di jembatan bambu baduy luar , mengambil beberapa pose untuk dijadikan bukti autentik kalau kami pernah mengunjungi baduy. Jepret dan jepret

“ini jembatan terakhir boleh ambil foto ya “ kata kang herman, salah satu pemandu trip
jembatan ke tiga yang kami lewati di baduy luar itu merupakan batas antara baduy luar dan baduy dalam, yang artinya larangan keras mengambil foto dan menggunakan elektronik juga mulai diberlakukan. jembatan ini sekaligus batas bagi pelancong turis asal luar dan china yang tidak diperkenankan menjelajahi baduy dalam, entah dengan alasan apa mereka melakukan larangan tsb.
Melewati jembatan ini juga berarti mengawali perjalanan trip kami yang sebenarnya. jalan setapak yang dilalui mulai berbeda, mulai menyempit dengan kemiringan bisa mencapai 70 derajat,pepohonan semakin lebat, alunan suara berbagai macam binatang terdengar begitu jelas . Dan Saat tenaga sudah hampir habis, kami masih dihadapkan pada kenyataan yang lebih pahit. Satu jalur menanjak yang tidak biasa, tanjakan yang akan mengantarkan kami ke tujuan utama , Desa Cibeo, desa pertama Baduy Dalam .

trekking menanjak

trekking menanjak

trekking menurun

trekking menurun

Sederhananya warga baduy dalam .

Setelah hampir 5 jam perjalanan,Sekitar 17.45 kami tiba di Desa Cibeo , saya dan beberapa teman langsung drop barang di salah satu rumah milik warga baduy dalam , Kang Heri. rumah baduy yang sangat sederhana .hanya sebuah pintu masuk tanpa jendela, berdinding bilik bambu beratapkan daun sagu kering, dengan dapur yang menjadi satu di dalam rumah.mereka sangat ramah dan sederhana,baju yang mereka pakai merupakan jahitan tangan sendiri dan hanya terdiri dari dua warna yaitu hitam dan putih,tidak menggunakan emas layaknya baduy luar, dan disini kita benar benar tidak akan mendapatkan perbedaan antara si kaya dan si miskin . Semua warga baduy dalam adalah sama.

Warga baduy dalam tidak mengenal tulisan, mereka belajar segala sesuatu dari alam . Meskipun demikian mereka sangat terbuka dengan pendatang , mereka belajar apapun yang tidak melanggar adat dari para pendatang. Bahkan sapri, sempat menyapa saya dengan sapaan B. inggris . “How are you?” katanya . Melihat ketertarikannya untuk belajar, saya dan woro,salah satu peserta backpack, memberikan beberapa kosakata dalam b.inggris saat perjalanan menuju Desa Cibeo.

Warga baduy juga sangat bergantung pada alam, sungai salah satunya,hal ini yang membuat pelancong tidak diperkenankan mandi dengan sabun atau sejenisnya. karena hal tsb dapat mencemari sungai mereka.sangat sulit rasanya untuk saya beradaptasi dengan tata hidup disini, tidak ada toilet dalam rumah, sanitasi mereka dilakukan di sungai mengalir,untuk ke sungai setidaknya kita harus jalan sejauh 10-20 meter, belum lagi rasa canggung saat harus buang air seni di ruang terbuka, malu sekali !
kalo di Jakarta ada seperti ini, mungkin sudah dimanfaatkan orang yang berfikiran jahat KNIFE

Jam 18.30 , merasakan malam di baduy, tidak ada penerangan listrik, sumber cahaya hanya berasal dari api yang diletakkan dalam sebuah tempat mirip petromax. Sangat redup . Kami pun menambahkan pencahayaan dengan senter yang kami dibawa. Meski gelap, gw sendiri tidak merasakan aura mistis pedalaman. Semua terasa biasa aja . Malam itu hanya sangat berbeda,tidak ada update status , tidak ada sinetron televisi.kami semua hanya tertawa lepas, bercerita tentang pendakian kemarin. So quality time . Dan mungkin itu alasan kenapa warga baduy menolak teknologi , sebuah kebersamaan yang diciptakan akan berbeda, terasa lebih pure.

Jam 20.30 tidur ditemani suara aliran sungai, adem benerrr !
Bermalam disini cukup dingin, selalu pastikan membawa kaus kaki dan jaket tebal agar tidur lo nyaman.

Belum hilang rasa pegal di sekujur badan , kami sudah harus melanjutkan perjalanan pulang, its 8.00 saat kami harus berpamitan meninggalkan baduy.
Jalur yang di lalui saat pulang berbeda dengan keberangkatan, kata orang baduy lebih banyak trek menurun dari pada mendakinya. Mungkin itu juga yang membuat keberangkatan pulang pun terasa lebih cepat, hanya butuh 3.5 jam untuk sampai di ciboleger kembali.

13.13 ciboleger – stasiun rangkas , 2 jam mengocok perut kembali di dalam elf.
15.15 stasiun rangkas – tanah abang via kereta ekonomi. how’s hot here !
17.30 off to tanah abang
19.00 homey dan Akhirnya bisa mandi pake sabun kembali . Sorry nature to destroy you again .

overall.Terima kasih warga baduy dalam untuk pelajaran dan pengalaman yang diberikan.semoga tetap menjadi sebuah budaya,jangan tergerus dunia luar yg sudah sedemikian fana. So proud to have you all !

kang herman, salah satu warga baduy dalam yang menjadi pemandu trekking

kang herman, salah satu warga baduy dalam yang menjadi pemandu trekking

kebersamaan ayah dan anak baduy dalam

kebersamaan ayah dan anak baduy dalam

ciri khas warga baduy, berjalan berderet ke belakang. so harmony!

ciri khas warga baduy, berjalan berderet ke belakang. so harmony!

Thanks juga untuk tim Backpacker Indonesia ekspedisi baduy kali ini, sampai jumpa di trip lainnya BYE

Resources https://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Kanekes

foto : dokumen pribadi , pengambilan foto dilakukan di baduy luar