ciri khas warga baduy, berjalan berderet ke belakang. so harmony!

Belajar kesederhanaan dari warga baduy dalam

Banyak alasan untuk kita kenapa kita harus mencintai  Indonesia. Negara dengan sejuta pesona yang  nyatanya kurang dilirik oleh masyarakat lokal tapi terlalu diagung-agungkan oleh mereka di luar. Ya! Jangan pernah menyalahkan era globalisasi karena menggeser nilai kebudayaan kita.Jangan salahkan Manusia yang memilih jalan hidupnya yang kebarat- baratan, kekorea-korean atau apapun.Tidak perlu ada yang disalahkan jika sebagian nilai kebudayaan Indonesia kini mulai meluntur. Mari berkaca dan mulai melihat Indonesia dari sisi yang berbeda.

Saat kita melihat dan mengagumi negara lain yang sangat canggih dengan beragam teknologi yang diciptakan. coba Lihat Indonesia sebagai Negara yang sederhana.

Kesederhanaan Indonesia ini sangat bisa dirasakan saat saya melakukan ekspedisi perjalanan ke Desa Cibeo,Baduy  dalam . Ekspedisi kali ini saya lakukan bersama 36 backpacker lain  yang tergabung dalam komunitas Backpacker Indonesia , 6-7 Juli kemarin

bpi

Foto bersama tim Backpacker Indonesia

Setelah berkumpul di St. Tanah abang, kami melanjutkan perjalanan menuju rangkasbitung dengan menggunakan kereta patas rangkasjaya . membutuhkan sekitar 1,5 Jam perjalanan untuk sampai di Stasiun Rangkasbitung  (8.00 – 9.30) . Dari sini, Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyewa angkutan umum sejenis elf dengan tujuan Desa Ciboleger.  Desa Ciboleger merupakan desa terakhir yang bisa dijangkau oleh kendaraan. Desa ini juga yang menjadi perbatasan warga baduy dengan warga sekitar . Untuk menuju desa ciboleger sendiri, kita akan menempuh perjalanan sekitar dua jam dengan  kondisi jalan yang rusak parah.

Desa Ciboleger, perbatasan Baduy.

Desa Ciboleger, perbatasan Baduy.

Jam 13.00 saya dan tim melanjutkan perjalanan menuju Desa Cibeo, Baduy dalam. Memulai perjalanan dengan sangat percaya diri. Satu jam berlalu,trekking mulai terasa melelahkan.  jalur trekking semakin sulit untuk dilalui, tanjakan dan turunan yang curam dan licin membuat keringat bercucuran membanjiri tubuh. Beberapa teman yang kewalahan membawa ransel mereka  mulai menggunakan jasa porter orang baduy untuk membawa barang mereka keatas. Saya sendiri  bertekad untuk tidak menggunakan jasa porter, meredam rasa letih dengan berbincang langsung dengan  pemandu jalan yang kebetulan adalah warga baduy dalam asli, Sapri dan Kang Herman.

Kang Sapri

Kepolosan mereka saat bercerita tak jarang membuat saya takjub, lucu dan terkadang mencengangkan. Sapri misalnya, Bercerita dengan bangganya kalau dia pernah mengunjungi  Monas, Mall Taman Anggrek, Epicentrum  dan banyak tempat lain di Jakarta dengan berjalan kaki.  Lain lagi cerita Kang Herman yang  pernah di tolak salah satu restauran luar dan hotel kenamaan di Jakarta karena tidak menggunakan alas kaki.

Warga baduy dalam juga tidak mengenal tulisan, mereka hanya belajar segala sesuatu dari alam. Meskipun demikian, mereka sangat terbuka dengan pendatang. belajar apapun yang tidak melanggar ketentuan adat . Bahkan saya sempat kaget saat Sapri menyapa saya dengan sapaan B. Inggris “how are you?”. Saat saya tanya darimana dia mempelajari bahasa asing, sapri mengaku bahwa dia sedikit banyak belajar bahasa asing dari turis yang sering mengunjunginya kesini. Mengagumkan!

jembatan bambu , baduy luar

jembatan perbatasan baduy luar dan baduy dalam

“ini jembatan terakhir boleh ambil foto ya, kalo melanggar nanti kena sakit”.  Kata sapri memotong ceritanya

Dan jembatan ketiga yang kami lewati di baduy luar ini sekaligus menjadi  batas antara baduy luar dan baduy dalam, yang artinya larangan keras mengambil foto dan menggunakan alat elektronik mulai diberlakukan. Jembatan ini juga menjadi  batas pelancong asing yang tidak diperkenankan memasuki kawasan baduy dalam.  Jalur yang dilalui mulai berbeda dari jalur sebelum. Jalan mulai menyempit dengan kemiringan bisa mencapai 70 derajat , pepohonan semakin lebat , alunan suara berbagai binatang terdengar begitu jelas. Dan satu tanjakan terakhir yang tidak biasa akan mengantarkan kita ke tujuan terakhir, Desa Cibeo, Baduy Dalam

trekking menanjak

tanjakan terakhir yang menguras tenaga.

Untuk  menuju Desa Cibeo, Baduy dalam, saya berjalan kaki menempuh jarak kurang lebih 12 KM dengan asumsi waktu tempuh sekitar 4.5 Jam. Jalur trekking yang dilalui  meliputi Desa Ciboleger  sampai Desa kaduketer, baduy luar (± 2 km= 1,5 jam) sedangkan Dari Desa Kaduketer, Baduy luar sampai Desa Cibeo, baduy dalam (± 10,5 km=3 jam)

(Waktu tempuh didapat dari perhitungan sendiri dengan sport watch.waktu yang dilalui tiap orang mungkin akan berbeda, tergantung dari kemampuan fisik masing- masing)

Peta wilayah Baduy

Sederhananya masyarakat Baduy … 

Ekspedisi kali ini sangat berbeda dan penuh cerita. Sedikit tidak percaya kalau tidak jauh dari gemerlap ibu kota masih ada daerah yang masyarakatnya masih sangat primitif. Di Kabupaten Lebak, Banten ini  tinggal sekelompok masyarakat adat  etnis sunda yang menamakan diri mereka orang kanekes atau orang Baduy/Badui. orang-orang hebat yang masih berpegang teguh dan menjunjung tinggi nilai kebudayaan mereka. Bayangkan saja, saat mereka di Kota berlomba lomba membangun rumah semegah mungkin , Rumah orang Badui hanya sebuah pintu tanpa jendela berdinding bilik bambu beratapkan daun sagu kering  dengan dapur  dan ruang tamu tanpa sekat . Saat kami di Kota dan Negara Negara besar menciptakan trend fashion ,pakaian orang badui hanya jahitan tangan sendiri tanpa motif dan hanya terdiri dari dua warna, hitam dan putih.

kebersamaan ayah dan anak baduy dalamciri khas warga baduy, berjalan berderet ke belakang. so harmony!

Rumah adat baduy dari kejauhan

Rumah adat baduy dari kejauhan

Saat kita  terlalu bergantung pada fasilitas, orang badui hanya sangat menggantungkan dirinya pada alam. Hal  itu yang membuat pengunjung seperti saya tidak diperkenankan mandi dengan sabun dan sejenisnya karena dianggap akan merusak sungai mereka. Dan menggunakan getah pohon sebagai pengganti sabun menjadi pengalaman yang cukup menarik buat saya.

Berbeda dengan kita yang sangat  bergantung pada gadget dan sejumlah kecanggihan teknologi lainnya. Disini, kita hanya tidak diperkenankan menggunakan itu semua, tidak ada penerangan listrik di malam hari, tidak ada handphone untuk update status, tidak ada kamera untuk selfie. Mereka tidak pernah merasa terlihat kuno tanpa itu semua, hanya tetap berpegang pada  pikukuh atau ketentuan adat yang mereka yakini yaitu konsep “tanpa perubahan apapun dan sesedikit mungkin”

“Lojor heunteu dipotong, pèndèk heunteu disambung”.

Kurang lebih Begitu kang herman berucap kepada saya yang sedikit-sedikit mengerti bahasa sunda. “Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung”

Berkaca dari kehidupan Masyarakat baduy, bukan berarti kita harus hidup seperti mereka , mengikuti segala tata adat mereka, kita hanya perlu menjadi diri kita, tidak takut berbeda. Karena Berbeda yang kita lakukan untuk menjadi satu Indonesia. Indonesia yang selalu terlihat sangat menarik di mata dunia.

tanpa manusia, budaya tidak ada, namun lebih penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada” (Clitford Geetz)

foto : dokumen pribadi , pengambilan foto dilakukan di baduy luar